Langsung ke konten utama

Gosip itu Seharusnya Buat Siapa?

Dari zaman SMA, saya punya kebiasaan nggak penting: neleponin teman hanya buat ngomongin orang, menjelek-jelekkan orang yang saya benci, dan curhat masalah saya. Nggak penting banget, kan? Kalau biasanya seorang anak nelepon orang hanya buat menanyakan tugas atau apapun itu (atau sekarang bisa saja menanyakan tugas lewat media sosial yang ada), saya hanya menelepon untuk bergosip. Sampai suatu ketika, Mama pulang dengan amarah yang besar mengetahui bahwa saya tidak belajar malah menelepon sana-sini.

Kalau Mama sudah marah besar, Mama biasanya akan mengadu ke Papa dan meneleponnya. Dan, saya dapat wejangan dari Papa saat itu, yang untungnya nggak mencak-mencak. Nasihat Papa yang membuat saya berpikir itu adalah ketika Papa menasihati saya dengan begini, "Ngapain kamu bergosip? Perempuan yang baik itu tidak bergosip. Kalau ini dibalikkan ke laki-laki, "Laki-laki nggak boleh bergosip. Gosip itu hanya untuk perempuan saja."

Pertanyaannya, gosip itu sebenarnya apa, sih? Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa gosip adalah "obrolan tentang orang lain; cerita negatif tentang orang lain; pergunjingan". Definisi yang diberikan KBBI sepertinya mengesankan bahwa gosip adalah sesuatu yang sangat negatif. Padahal, percaya atau tidak, gosip berarti sebuah obrolan menurut ilmu Sosiolinguistik, yaitu ilmu yang mencari kaitan antara bahasa dan masyarakat.

Memang, ilmu Sosiolinguistik ini juga melakukan kajian terhadap apa saja yang biasa diobrolkan oleh laki-laki dan perempuan, dan kita harus menerima kenyataan bahwa gosip adalah sesuatu yang biasa diobrolkan oleh perempuan: entah ngomongin cowok, kosmetik, menggunjing orang, dan lain sebagainya. Dan, kamu tahu? Saya senang bergosip karena gosip sendiri adalah sesuatu yang membuat kumpul-kumpul menjadi lebih hangat.

Tetapi, yang sangat tidak saya sukai adalah: laki-laki sering bersembunyi dibalik kata 'boys talk', sebuah frasa yang menurut saya nggak ada bedanya dengan gosip. Yang diomongkan, menurut analisis saya adalah: 90% ngomongin asmara dan perempuan, 5% ngomongin politik dan game, dan 5% lagi mereka pasti ngomongin pekerjaan dan lain sebagainya. Memang, laki-laki tidak punya tendensi untuk menjelek-jelekkan orang dari belakang karena laki-laki punya pemikiran: "Tuhan menciptakan mulut di depan untuk berbicara di depan, bukan di belakang." Maka dari itu, jarang sekali laki-laki menggunjing orang. Meski jarang, memang pada saatnya sebuah obrolan pasti akan mengarah pada pergunjingan. Apakah itu bukan gosip namanya?




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Standar

Saya seorang perempuan penggoda. Ya, penggoda dalam arti sebenarnya. Hanya menggoda, lho. Saya sangat menyukai laki-laki yang tampan, baik secara fisik maupun pesona. Saya senang menggoda laki-laki yang bertubuh tinggi-tegap. Selain tinggi-tegap, laki-laki tersebut haruslah memiliki sesuatu yang menyembul di tangannya, di dadanya, dan di perutnya. Pundaknya pun haruslah lapang. Saya memang suka tidur di pundak seseorang karena pundak adalah bantal saya yang paling empuk untuk menumpahkan sayang dan benci, riang dan tangis. Kadang, saya suka berfantasi mengenai orang-orang tersebut. Orang-orang tersebut memang berada di sekitar saya: teman-teman saya, orang-orang yang berkelebat di kampus, dan bahkan dosen saya. Fantasi saya memang agak liar, benang merahnya hanya satu: sentuhan. Sentuhan yang membuat mereka akan berlanjut di suatu tempat yang tersembunyi untuk saling mencintai dan saling menyayangi. Berkaitan dengan sentuhan, pernah saya berfantasi bahwa saya menyentuh paha milik ...