Langsung ke konten utama

Standar

Saya seorang perempuan penggoda. Ya, penggoda dalam arti sebenarnya. Hanya menggoda, lho. Saya sangat menyukai laki-laki yang tampan, baik secara fisik maupun pesona. Saya senang menggoda laki-laki yang bertubuh tinggi-tegap. Selain tinggi-tegap, laki-laki tersebut haruslah memiliki sesuatu yang menyembul di tangannya, di dadanya, dan di perutnya. Pundaknya pun haruslah lapang. Saya memang suka tidur di pundak seseorang karena pundak adalah bantal saya yang paling empuk untuk menumpahkan sayang dan benci, riang dan tangis.

Kadang, saya suka berfantasi mengenai orang-orang tersebut. Orang-orang tersebut memang berada di sekitar saya: teman-teman saya, orang-orang yang berkelebat di kampus, dan bahkan dosen saya. Fantasi saya memang agak liar, benang merahnya hanya satu: sentuhan. Sentuhan yang membuat mereka akan berlanjut di suatu tempat yang tersembunyi untuk saling mencintai dan saling menyayangi. Berkaitan dengan sentuhan, pernah saya berfantasi bahwa saya menyentuh paha milik dosen saya yang sangat sekel. Saya nakal, nggak, sih?

Tetapi, suatu hari, dengan berani saya menggoda laki-laki. Padahal, kalau urusan menggoda, dulunya saya adalah seorang betina pemalu. Saya harus berterima kasih kepada Kim Cattrall yang memerankan Samantha Jones dalam serial favorit saya, “Sex and the City”. Karena dia-lah saya berani menggoda. Salah satu laki-laki yang berpenampilan aduhai dan menepati standar saya untuk berfantasi. Dia teman seangkatan saya. Dia lulus terlebih dahulu dan akan melak-sanakan wisuda. Saya sengaja duduk di sebelahnya. Seno, nama laki-laki ini, berpenampilan sa-ngat aduhai dari ekspektasi saya: menggunakan t-shirt putih polos, celana chino cokelat, membiarkan rambutnya berantakan. Selain badannya yang berotot, saya suka mengidam-idamkan bibir tebal atas bawahnya menggerayangi bibir dan tengkuk saya di sebuah tempat.

Saya bertanya, “Kamu bakal lulus Juni, ya?”

“Iya, nih.”

“Yah, saya nggak bakal bisa melihat kamu ada di fakultas lagi, dong…” saya mulai nakal. “Tahukah kamu? Kamu adalah salah satu pemandangan yang membuat saya bisa segar kembali ketika menginjakkan kaki di kantor fakultas.”

“Oh, ya?”

Saya menganggukkan kepala. Dia tertawa kecil. “Makanya, saya nggak bakalan bisa nge-lihat kamu lagi, dong,” saya terus-terusan menggoda, berharap dia luluh. Nyatanya, uh… sebel!

“Turunin standar kamu, dong. Biar ada yang bisa kamu lihat.”

Baiklah. Rasa jengkel mulai menyeruak di dalam hati saya. Seolah-olah, saya harus men-dapatkan seseorang yang pantas saya goda. Dan dia tidak bisa digoda. Seolah-olah pula, saya ada-lah perempuan paling buruk di muka bumi dan harus mendapatkan seseorang yang sama buruk-nya biar saya bisa menggoda dengan leluasa. Karena itulah saya mulai mengeluh kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya, apakah saya makhluk paling buruk di dunia ini? Katanya, Tuhan men-ciptakan manusia segambar dan serupa dengan-Nya. Kalau segambar dan serupa dengan-Nya, mengapa harus ada orang yang tidak sedap dipandang mata? Ini nggak adil, kan, ya?

Saya pun bertanya kepada sahabat saya, Santika. Gadis kecil molek yang berdandan ala Brit Girl ini rupanya adalah orang yang masih mempertahankan bahwa jadilah perempuan yang memiliki standar. Namun, ia mengatakannya dengan cara lain.

“Bagus, dong. Justru, harusnya itu memotivasi kamu untuk dapat meraih apa yang kamu impikan. You know what I mean, right?” katanya dengan lembut sambil menyunggingkan bibir berlipstik merahnya itu untuk tersenyum. Saya pun tersenyum, mengagumi gagasan dan pemi-kirannya yang sangat bagus itu. Tentu pula dengan penampilannya. Rambut pirang. Berwajah oval. Bermata almond yang dibungkus dengan kacamata ala-ala John Lennon. Pipinya dipulas dengan perona pipi merah. Dan, bibirnya dipulas lipstik merah yang tak tanggung-tanggung membuat dia nampak keren. Apalagi dengan outfitnya: baju flanel lengan panjang berwarna merah dengan kaus abu-abu dan legging berbahan dasar jins.

Nande Karo asli yang datang langsung dari Medan untuk belajar di Salatiga pun membuat saya teringat akan pembicaraan serupa. Nande Karo ini bernama Adelin. Orangnya kecil-molek. Ayu pula. Tidak seperti saya, Adelin punya karakter yang persis seperti orang Medan. Kalau dia rasa bahwa dia tidak menyukai suatu gagasan atau hal yang dilakukan seseorang, tidak akan segan-segan dia akan datang ke orang tersebut dan mencecarnya habis-habisan dengan gagasan yang ada di pikirannya, dengan penuh hemah, tentunya. Tahukah kamu? Sifat seperti inilah yang harus saya kembangkan. Adelin mengatakan bahwa dia sudah jomblo terlalu lama. Sekarang, sih, sudah tidak lagi. Toh, gosipnya dia sudah jadian dengan seseorang.

Gadis yang juga sangat hobi memakai baju flanel lengan panjang ini mengatakan bahwa kita sebagai perempuan harus memiliki standar yang tinggi dalam bercinta. Jadi, persetan dengan perkataan, “Kamu kok kelamaan menjomblo? Ayo, dong, cari pacar!” yang ketika manusia membesar juga mendapatkan pertanyaan bernada sama dengan kalimat yang berbeda: “Kapan kawin?” disertai dengan imbauan bahwa kalau terlalu lama menunggu nanti jadi andartu, anak dara tua.
Kenapa perempuan harus memiliki standar dalam menentukan laki-laki manakah yang akan mendampingi kehidupannya? Oh, jelas dan harus, dong! Adelin menginginkan seseorang yang sangat lihai dan cekatan. Selain cekatan, dia juga butuh lelaki tegas dan tidak kelemar-kelemer. Saya malah justru meyakinkannya ketika dia merasa ragu akan tindakannya yang memilih lelaki berdasarkan standar yang berlaku. Dia pun menjadi semakin yakin dengan tindakannya setelah saya motivasi. Dengan pede dia mengatakan pertanyaan retoris, “Mau kamu menikah dengan laki-laki yang justru membuat kamu hidup menderita?” Ya, retoris sekali. Tidak membutuhkan jawaban karena sudah pasti semua perempuan tidak ingin berada di bawah bayang-bayang laki-laki yang tidak tahu bagaimana caranya membahagiakan perempuan.

Nah, pertanyaannya, salahkah memiliki standar dalam percintaan? Jelas tidak. Seluruh manusia menginginkan sebuah hubungan yang saling membahagiakan. Laki-laki mesti paham caranya membahagiakan perempuan. Perempuan harus selektif dan bisa merasakan apakah laki-laki yang mendekatinya bisa membahagiakannya atau tidak. Karena, salah-salah bisa jadi ben-cana. Kamu pikir saya tidak pernah melihat perempuan yang harus patuh dengan laki-lakinya hanya demi cinta? Dan caranya membuat patuh itu tidak tanggung-tanggung.

Lenong kekerasan.
Pukulan.
Pecahan gelas.
Amarah bernada tinggi.
Hujatan dan caci-maki.
Hingga berujung tangis.

Mau bercinta dengan laki-laki seperti itu? Yang ketika marah mengeluarkan nada tinggi seakan-akan dia berkuasa atas hubungan dan harus dituruti?

Jangan pernah tergoda untuk menurunkan standar laki-laki yang kamu mau. Mencintai kamu apa adanya? Oh, bukan zamannya lagi. Kamu harus menuntut sesuatu agar hubungan bisa berjalan ke arah yang lebih baik lagi. Karena kamu akan menikah dengan seseorang yang memba-hagiakan kamu, bukan seseorang yang hanya bisa memberikan seadanya dan sepantasnya untuk rumah tangganya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gosip itu Seharusnya Buat Siapa?

Dari zaman SMA, saya punya kebiasaan nggak penting: neleponin teman hanya buat ngomongin orang, menjelek-jelekkan orang yang saya benci, dan curhat masalah saya. Nggak penting banget, kan? Kalau biasanya seorang anak nelepon orang hanya buat menanyakan tugas atau apapun itu (atau sekarang bisa saja menanyakan tugas lewat media sosial yang ada), saya hanya menelepon untuk bergosip. Sampai suatu ketika, Mama pulang dengan amarah yang besar mengetahui bahwa saya tidak belajar malah menelepon sana-sini. Kalau Mama sudah marah besar, Mama biasanya akan mengadu ke Papa dan meneleponnya. Dan, saya dapat wejangan dari Papa saat itu, yang untungnya nggak mencak-mencak. Nasihat Papa yang membuat saya berpikir itu adalah ketika Papa menasihati saya dengan begini, "Ngapain kamu bergosip? Perempuan yang baik itu tidak bergosip. Kalau ini dibalikkan ke laki-laki, "Laki-laki nggak boleh bergosip. Gosip itu hanya untuk perempuan saja." Pertanyaannya, gosip itu sebenarnya apa, sih? K...